Bentuk Pengandaian
Dalam bahasa Jepang ada 4 macam variasi bentuk pengandaian ada pengandaian ba, tara, nara dan to.
1. Pengandaian ba
1. Pengandaian ba
Chirimo tsumoreba yama to naru
(Debupun kalau dikumpulkan bisa jadi gunung)
Wakaranai koto ga are ba itsudemo kiite kudasai
(Kalauada yang tidak dipahami silahkan bertanya kapan saja)
Kalimat nomor 1 menyatakan suatu perumpamaan yang maknanya biarpun sedikit tapi kalau kita rajin mengumpulkan sesuatu lama-lama akan menjadi banyak. Ungkapan pengandaian (~ba) pada contoh kalimat nomor 2 menyatakan hubungan ketergantungan (jika A maka B), yaitu bahwa jika tidak mengerti maka diperbolehkan bertanya kapan saja. Ungkapan pengandaian (~ba) dalam pembentukannya digunakan untuk menyatakan kalimat yang berupa perkiraan atau asumsi.
2. Pengandaian tara
(Debupun kalau dikumpulkan bisa jadi gunung)
Wakaranai koto ga are ba itsudemo kiite kudasai
(Kalauada yang tidak dipahami silahkan bertanya kapan saja)
Kalimat nomor 1 menyatakan suatu perumpamaan yang maknanya biarpun sedikit tapi kalau kita rajin mengumpulkan sesuatu lama-lama akan menjadi banyak. Ungkapan pengandaian (~ba) pada contoh kalimat nomor 2 menyatakan hubungan ketergantungan (jika A maka B), yaitu bahwa jika tidak mengerti maka diperbolehkan bertanya kapan saja. Ungkapan pengandaian (~ba) dalam pembentukannya digunakan untuk menyatakan kalimat yang berupa perkiraan atau asumsi.
2. Pengandaian tara
Ungkapan pengandaian (~tara) berfungsi untuk menunjukkan aktivitas yang berulang yang dalam keadaan ini, bentuk ungkapan pengandaian (~tara) dan (~to) kemungkinan bisa saling menggantikan. Fungsi lainnya yaitu untuk mengekspresikan asumsi, dan untuk menyatakan saran. Dalam pembentukannya sering digunakan bersamaan dengan kata tunjuk [Ko/So/A] yang menunjukkan keadaan.
Annani bijin dattara, dansei ga houtteokanaidarou
(Kalau perempuan secantik itu, akankah ditelantarkan pria)
Kokomade kitara, hitoridemo kaeremasu
(Kalau datang kesini, bisa pulang sendiri)
Sonnani takusan tabetara, onaka o kowashimasuyo
(Kalau banyak makan seperti itu, perut akan kesakitan)
Kalimat diatas menunjukkan ungkapan dugaan yang akan terjadi bila suatu syarat terjadi, digunakan bersamaan dengan kata tunjuk [Ko/So/A] yang menunjukkan keadaan.
Itsumo, 5 ji ni nattara sugu shigoto o yamete, tenisu o shimasu
(Setiap jam 5 , saya pergi tenis setelah menyelesaikan pekerjaan)
Koko wa fuyu ni nattara yuki ga 1 metoru gurai tsumoru
(Kalau musim dingin, disini salju akan menumpuk setidaknya satu meter)
Fudan wa hiru gohan o tabetara hirune o shimasuga, kyou wa kaimono ni ikanakerebanarimasen
(Biasanya setelah makan siang langsung tidur, tapi hari ini harus pergi berbelanja)
Kalimat diatas menunjukkan arti setelah terjadi X maka terjadi Y. X menunjukkan waktu dari keadaan Y yang terjadi. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan aktivitas berulang. Dalam keadaan ini, bentuk ungkapan pengandaian ~tara dan ~to kemungkinan bisa saling menggantikan
Ame ga futtara, kyampu wa chushi desu
(Jika hujan turun, kemah dihentikan)
Yamamoto san ni attara, yoroshiku tsutaete kudasai
(Jika Tuan Yamamoto datang, tolong beritahu)
Ungkapan pengandaian tara merupakan ungkapan untuk mengekspresikan asumsi seperti yang terjadi pada contoh kalimat nomor 1 diatas. Kemudian, pada contoh kalimat nomor 2 berisi harapan dan instruksi pembicara kepada lawan bicara. Fungsi lainnya adalah ungkapan pengandaian (~tara) juga bisa digunakan dalam kalimat yang menyatakan saran.
3. Pengandaian nara
Annani bijin dattara, dansei ga houtteokanaidarou
(Kalau perempuan secantik itu, akankah ditelantarkan pria)
Kokomade kitara, hitoridemo kaeremasu
(Kalau datang kesini, bisa pulang sendiri)
Sonnani takusan tabetara, onaka o kowashimasuyo
(Kalau banyak makan seperti itu, perut akan kesakitan)
Kalimat diatas menunjukkan ungkapan dugaan yang akan terjadi bila suatu syarat terjadi, digunakan bersamaan dengan kata tunjuk [Ko/So/A] yang menunjukkan keadaan.
Itsumo, 5 ji ni nattara sugu shigoto o yamete, tenisu o shimasu
(Setiap jam 5 , saya pergi tenis setelah menyelesaikan pekerjaan)
Koko wa fuyu ni nattara yuki ga 1 metoru gurai tsumoru
(Kalau musim dingin, disini salju akan menumpuk setidaknya satu meter)
Fudan wa hiru gohan o tabetara hirune o shimasuga, kyou wa kaimono ni ikanakerebanarimasen
(Biasanya setelah makan siang langsung tidur, tapi hari ini harus pergi berbelanja)
Kalimat diatas menunjukkan arti setelah terjadi X maka terjadi Y. X menunjukkan waktu dari keadaan Y yang terjadi. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan aktivitas berulang. Dalam keadaan ini, bentuk ungkapan pengandaian ~tara dan ~to kemungkinan bisa saling menggantikan
Ame ga futtara, kyampu wa chushi desu
(Jika hujan turun, kemah dihentikan)
Yamamoto san ni attara, yoroshiku tsutaete kudasai
(Jika Tuan Yamamoto datang, tolong beritahu)
Ungkapan pengandaian tara merupakan ungkapan untuk mengekspresikan asumsi seperti yang terjadi pada contoh kalimat nomor 1 diatas. Kemudian, pada contoh kalimat nomor 2 berisi harapan dan instruksi pembicara kepada lawan bicara. Fungsi lainnya adalah ungkapan pengandaian (~tara) juga bisa digunakan dalam kalimat yang menyatakan saran.
3. Pengandaian nara
Pengandaian ini berfungsi lebih kepada pengandaian yang bersifat saran atau pemberitahuan. Didalam kalimat sebelum kata nara berupa no atau n mempunyai arti yang sama hanya untuk mempertegas penggunaan (~nara) dalam kalimat tersebut.
Apabila situasi yang terjadi merupakan hal yang alami atau menyatakan waktu yang sudah terlewati maka, sebagai gantinya harus menggunakan (tara), (ba), dan (to). Pada akhir kalimat tidak hanya mengungkapkan keadaan yang sebenarnya saja, akan tetapi dapat juga menggunakan kalimat yang mengandung kemauan, anggapan/ pertimbangan, larangan, permintaan, rangkuman, penilaian.
(Mendengar kabar kalau dari pagi turun hujan)
Ame ga furu (no) nara, kasa o motte ikou
(Kalau turun hujan, bawa payung bila bepergian)
Pada kalimat tara, ba dan to di bagian kalimat pertama mengungkapkan keadaan yang lalu, dan kalimat berikutnya merupakan hasil dari kalimat pertama. Sedangkan pada bentuk (~nara), menunjukkan sebagian keadaan yang terjadi, kemudian sebagian dari keadaan lainnya berlanjut terjadi. Misalnya:
Itaria ni ittara, Itaria go o narainasai
(Kalau pergi ke Itali, belajarlah bahasa Itali)
*Bentuk (~nara) dalam kalimat ini memiliki makna setelah pergi ke Italia, baru belajar bahasa Italia
Itaria ni iku nara, Itaria go o narainasai
(Kalau pergi ke Itali, belajarlah bahasa Itali)
*Bentuk (~nara) dalam kalimat ini memiliki makna sebelum pergi ke Italia, belajar bahasa Italia di negaranya sendiri bukan setiba di Italia
A: keitaidenwa wo motte imasu
(saya membawa telepon genggam)
B: Keitaidenwa ga arunara, itsudemo renraku dekimasune
(jika membawa telepon genggam, kapanpun bisa memberitahu ya)
A: Suupaa e ittekuru yo
(saya pergi ke supermarket)
B: Suupaa e ikunonara, shouyu o katte kimasu
(kalau pergi ke supermarket, belilah shoyu)
Salah satu ciri khas dari ungkapan Pengandaian nara adalah dipakai untuk menerima pernyataan lawan bicara dari pembicara seperti contou diatas. Untuk versi yang lebih sopannya yaitu ならば. Contoh :
好きならば好きだと言おう
suki naraba suki da to iou
Jika kau suka, katakanlah suka
4. Pengandaian to
Apabila situasi yang terjadi merupakan hal yang alami atau menyatakan waktu yang sudah terlewati maka, sebagai gantinya harus menggunakan (tara), (ba), dan (to). Pada akhir kalimat tidak hanya mengungkapkan keadaan yang sebenarnya saja, akan tetapi dapat juga menggunakan kalimat yang mengandung kemauan, anggapan/ pertimbangan, larangan, permintaan, rangkuman, penilaian.
(Mendengar kabar kalau dari pagi turun hujan)
Ame ga furu (no) nara, kasa o motte ikou
(Kalau turun hujan, bawa payung bila bepergian)
Pada kalimat tara, ba dan to di bagian kalimat pertama mengungkapkan keadaan yang lalu, dan kalimat berikutnya merupakan hasil dari kalimat pertama. Sedangkan pada bentuk (~nara), menunjukkan sebagian keadaan yang terjadi, kemudian sebagian dari keadaan lainnya berlanjut terjadi. Misalnya:
Itaria ni ittara, Itaria go o narainasai
(Kalau pergi ke Itali, belajarlah bahasa Itali)
*Bentuk (~nara) dalam kalimat ini memiliki makna setelah pergi ke Italia, baru belajar bahasa Italia
Itaria ni iku nara, Itaria go o narainasai
(Kalau pergi ke Itali, belajarlah bahasa Itali)
*Bentuk (~nara) dalam kalimat ini memiliki makna sebelum pergi ke Italia, belajar bahasa Italia di negaranya sendiri bukan setiba di Italia
A: keitaidenwa wo motte imasu
(saya membawa telepon genggam)
B: Keitaidenwa ga arunara, itsudemo renraku dekimasune
(jika membawa telepon genggam, kapanpun bisa memberitahu ya)
A: Suupaa e ittekuru yo
(saya pergi ke supermarket)
B: Suupaa e ikunonara, shouyu o katte kimasu
(kalau pergi ke supermarket, belilah shoyu)
Salah satu ciri khas dari ungkapan Pengandaian nara adalah dipakai untuk menerima pernyataan lawan bicara dari pembicara seperti contou diatas. Untuk versi yang lebih sopannya yaitu ならば. Contoh :
好きならば好きだと言おう
suki naraba suki da to iou
Jika kau suka, katakanlah suka
4. Pengandaian to
Ungkapan pengandaian (~to) dalam pembentukannya tidak bisa mengandung niat, harapan, perintah, atau permintaan yang berhubungan dengan perasaan karena merupakan kalimat yang mengandung fakta dengan hubungan sebab akibat dan hasil sudah bisa dipastikan kebenarannya.
Bentuk ungkapan pengandaian (~to) menunjukkan apabila kalimat sebelum (~to) terjadi, kalimat selanjutnya menunjukkan kalimat yang semestinya terjadi. Sering digunakan ketika menyatakan mengenai kejadian alam, cara penggunaan mesin, memberikan petunjuk (lokasi).
San gatsu no kouhan ni naru to, sakura ga sakihajimemasu
(kalau pertengahan bulan Maret tiba,bunga Sakura mulai mekar)
Mai asa okiruto, koucha o ippai nomimasu
(jika setiap bangun pagi, minum segelas kocha)
Okane o irete botan o osuto, kippu ga detekimasu
(jika memasukkan uang lalu menekan tombol, tiket akan keluar)
Ungkapan pengandaian (~to) menyatakan kegiatan berulang – ulang. Kalimat nomor 1 menunjukkan arti fenemona alam, kemuadian kalimat nomor 2 menunjukkan kebiasaan, lalu kalimat nomor 3 menyatakan cara kerja mesin.
San gatsu no kouhan ni naru to, sakura ga sakihajimemasu
(kalau pertengahan bulan Maret tiba,bunga Sakura mulai mekar)
Mai asa okiruto, koucha o ippai nomimasu
(jika setiap bangun pagi, minum segelas kocha)
Okane o irete botan o osuto, kippu ga detekimasu
(jika memasukkan uang lalu menekan tombol, tiket akan keluar)
Ungkapan pengandaian (~to) menyatakan kegiatan berulang – ulang. Kalimat nomor 1 menunjukkan arti fenemona alam, kemuadian kalimat nomor 2 menunjukkan kebiasaan, lalu kalimat nomor 3 menyatakan cara kerja mesin.
Komentar
Posting Komentar